cruisesplusinternational – Cerita tentang Roro Jonggrang, semua ini bermula bukan dari cinta, tapi dari kehancuran. legenda rakyat Jawa Tengah/Yogyakarta tentang putri cantik yang dikutuk menjadi arca oleh Bandung Bondowoso. Legenda ini mengisahkan asal-usul Candi Prambanan, di mana sang putri meminta syarat seribu candi dalam semalam namun menggagalkannya, memicu kemarahan pangeran yang membuatnya menjadi arca ke-1000.
Kalau kamu lagi berdiri di depan megahnya Candi Prambanan, mungkin yang kamu lihat cuma tumpukan batu yang disusun dengan presisi luar biasa, tinggi, simetris, dan kelihatan sakral. Tapi di balik itu, ada cerita yang nggak sesimpel sejarah pembangunan candi. Ada emosi, ada kehilangan dan ada satu keputusan yang akhirnya mengubah seorang manusia jadi legenda.
Kehidupan Roro Jonggrang
Di tanah Jawa yang waktu itu masih dipenuhi kerajaan-kerajaan besar berdirilah sebuah istana megah yang sekarang kita kenal sebagai Keraton Ratu Boko. Di situlah Roro Jonggrang tumbuh sebagai putri raja, hidup dalam kemewahan, tapi juga dalam bayang-bayang kekuasaan. Dia bukan cuma dikenal karena kecantikannya. Ada sesuatu yang lebih dari itu, cara dia melihat dunia, cara dia memahami situasi, dan mungkin cara dia bertahan.
Karena hidup di lingkungan kerajaan, kamu nggak cuma belajar soal etika dan keanggunan tapi juga belajar satu hal penting yaitu kekuasaan bisa berubah kapan saja.
Dan itu terbukti, suatu hari, perang datang tanpa kompromi. Seorang pangeran sakti bernama Bandung Bondowoso menyerang kerajaan ayahnya. Bukan sekadar perang biasa tapi ini adalah perebutan kekuasaan yang berakhir tragis.
Ayah Roro Jonggrang gugur menyebabkan kerajaannya runtuh dan dalam satu malam, hidupnya berubah total.
Dari seorang putri jadi pihak yang kalah. Yang bikin cerita ini makin rumit, bukan cuma soal perang tapi apa yang terjadi setelahnya. Bandung Bondowoso orang yang menghancurkan hidupnya justru jatuh cinta pada Roro Jonggrang. Kedengarannya absurd, tapi di situlah konflik sebenarnya dimulai.
Karena ini bukan cinta yang tumbuh pelan-pelan. Ini cinta yang datang dari posisi kuasa dan buat Roro Jonggrang, itu bukan sesuatu yang bisa dia terima begitu saja. Tapi di sisi lain, dia juga nggak punya banyak pilihan.
Menolak secara langsung? Bisa berujung fatal.
Menerima? Itu berarti mengkhianati dirinya sendiri.
Jadi dia melakukan satu hal yang mungkin paling manusiawi dia mencari jalan tengah. Syarat itu terdengar sederhana, tapi sebenarnya penuh perhitungan. Dia meminta Bandung Bondowoso membangun seribu candi dalam satu malam. Kalau dipikir logis, itu mustahil. Dan mungkin itu yang dia harapkan sebuah kegagalan yang bisa jadi alasan aman untuk menolak.
Tapi kadang, hidup nggak selalu berjalan sesuai logika kita. Bandung Bondowoso bukan manusia biasa dengan kekuatan yang dia miliki dan bantuan makhluk gaib, pembangunan itu berjalan jauh lebih cepat dari yang dibayangkan. Malam itu, sesuatu yang seharusnya mustahil hampir jadi kenyataan dan di situlah rasa takut mulai masuk.
Roro Jonggrang melihat satu hal yang nggak dia prediksi yakni dia bisa kalah dan kalau dia kalah, itu berarti hidupnya akan ditentukan oleh seseorang yang sudah menghancurkan segalanya. Jadi dia membuat keputusan, bukan keputusan yang sempurna dan bukan juga yang sepenuhnya benar tapi keputusan yang lahir dari tekanan.
Dia menciptakan ilusi pagi, suasana dibuat seolah-olah matahari sudah terbit. Aktivitas warga dimulai lebih awal, suara ditimbulkan, cahaya dinyalakan. Makhluk gaib yang membantu pembangunan pun tertipu. Mereka mengira waktu sudah habis, dan meninggalkan pekerjaan itu. Jumlah candi berhenti di 999 ,secara angka, Bandung Bondowoso gagal.
Tapi secara realita, dia tahu kebenarannya yang terjadi setelah itu bukan cuma kemarahan tapi juga rasa dikhianati dan dari emosi itulah lahir kutukan. Roro Jonggrang dikutuk menjadi batu menjadi bagian dari candi yang dia coba gagalkan menjadi candi ke-1000.

Sebuah ending yang bukan cuma tragis, tapi juga simbolis.
Kalau kamu lihat cerita ini dari jauh, mungkin keliatan seperti dongeng biasa tapi kalau kamu pelan-pelan masuk ke dalamnya, ada banyak hal yang sebenarnya dekat banget sama realita. Ini bukan cuma soal cinta yang gagal tapi soal seseorang yang kehilangan segalanya, lalu mencoba mengontrol sisa hidupnya dengan cara yang dia bisa. Ini soal kekuasaan yang memaksa, dan perlawanan yang dilakukan secara diam-diam dan ini juga soal konsekuensi bahwa setiap pilihan, bahkan yang kita ambil untuk bertahan, tetap punya harga.
Makanya sampai sekarang, cerita ini masih hidup bukan karena mistisnya atau pun bukan juga karena dramanya tapi karena kita, sebagai manusia, masih bisa melihat diri kita di dalamnya.
Di dalam ketakutan Roro Jonggrang, di dalam ambisi Bandung Bondowoso dan di dalam keputusan-keputusan yang diambil di saat terdesak dan mungkin kalau kamu berdiri lagi di depan Candi Prambanan, kamu nggak cuma lihat batu tapi kamu akan lihat cerita.
Cerita tentang seseorang yang mencoba bertahan tapi akhirnya jadi bagian dari sejarah itu sendiri.
Referensi
Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Danandjaja, James. Folklor Indonesia
Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi
Soekmono, R. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia
Situs resmi pariwisata Indonesia (indonesia.travel)




