Ba Xia: Legenda Anak Naga yang Menjadi Penyangga Prasasti China

cruisesplusinternational – Kalau pernah berjalan di kompleks kuil, makam kekaisaran, atau situs bersejarah di China, ada kemungkinan kita bertemu dengan sebuah patung yang cukup aneh.

Dari jauh bentuknya seperti kura-kura raksasa.

Namun, semakin dekat diperhatikan, wajahnya terasa tidak seperti kura-kura biasa. Kepalanya memiliki karakter naga, tubuhnya besar, kakinya kokoh, dan di atas punggungnya berdiri sebuah batu vertikal yang ukurannya terkadang luar biasa besar.

Batu tersebut bukan sekadar dekorasi.

Biasanya ia adalah stele atau prasasti yang berisi tulisan untuk mengenang seseorang, mencatat sebuah peristiwa, memuji kebajikan seorang penguasa, atau meninggalkan pesan yang diharapkan dapat bertahan jauh lebih lama daripada manusia yang menulisnya.

Lalu makhluk yang berada di bawahnya?

Ia sering dikenal sebagai Ba Xia atau Baxia (霸下). Dalam tradisi lain, makhluk serupa jauh lebih populer dengan nama Bixi (赑屃).

Legenda kemudian menghubungkannya dengan salah satu dari sembilan anak naga dalam kebudayaan China.

Ba Xia mempunyai satu kegemaran yang agak tidak biasa.

Ia suka membawa beban berat.

Dari karakter inilah lahir salah satu bentuk seni monumental China yang bertahan selama berabad-abad: seekor makhluk perpaduan kura-kura dan naga yang seolah memikul sejarah di atas punggungnya.

Siapa Sebenarnya Ba Xia?

Ba Xia digambarkan sebagai makhluk dengan tubuh menyerupai kura-kura dan karakteristik naga pada bagian kepala.

Ia bukan naga panjang yang terbang di antara awan seperti gambaran naga China yang lebih familiar. Tubuhnya rendah, besar, dan terlihat seperti memang dibuat untuk menopang sesuatu.

Dalam legenda mengenai anak-anak naga, masing-masing keturunan naga diceritakan memiliki karakter dan kegemaran sendiri.

Ada yang menyukai suara keras, ada yang berhubungan dengan musik, ada yang menyukai sastra, sementara Ba Xia terkenal karena kekuatannya dan kegemarannya membawa benda berat.

Karakter inilah yang kemudian diwujudkan dalam arsitektur.

Ketika sebuah prasasti batu membutuhkan alas yang tidak hanya kokoh tetapi juga sarat makna, Ba Xia menjadi pilihan yang hampir sempurna.

Tubuhnya menjadi pedestal.

Punggungnya menopang prasasti.

Dari sana, sebuah makhluk legenda berubah menjadi bagian dari bahasa visual arsitektur China.

Namun, ada satu persoalan kecil yang membuat ceritanya semakin menarik.

Nama Ba Xia bukan satu-satunya nama yang digunakan.

Ba Xia atau Bixi, Mana yang Benar?

Kalau mencari makhluk ini dalam literatur modern, nama Bixi kemungkinan akan lebih sering muncul.

Bixi ditulis dengan karakter 赑屃 dan dikenal luas sebagai makhluk berbentuk kura-kura yang membawa prasasti.

Sementara itu, nama Baxia atau Ba Xia (霸下) juga muncul dalam sumber-sumber tradisional.

Beberapa penulis Dinasti Ming bahkan membedakan keduanya.

Li Dongyang pada era Ming, misalnya, menyebut makhluk yang senang membawa beban dan berada di bawah prasasti sebagai Baxia. Dalam tradisi lain yang kemudian menjadi lebih populer, nama Bixi justru digunakan untuk makhluk penyangga prasasti tersebut.

Jadi, kalau menemukan artikel yang menyebut patung kura-kura naga sebagai Bixi, sementara sumber lainnya menyebutnya Baxia, belum tentu salah satunya melakukan kesalahan.

Tradisi mengenai “sembilan anak naga” sendiri mempunyai beberapa versi.

Nama, urutan, bahkan karakter makhluk yang masuk dalam kelompok tersebut tidak selalu identik.

Itulah sebabnya mitologi sering jauh lebih berantakan daripada daftar karakter dalam sebuah film.

Cerita berkembang melalui zaman, penulis, daerah, dan tradisi yang berbeda.

Untuk memudahkan pembahasan, kita akan menggunakan nama Ba Xia sambil tetap mengingat bahwa figur penyangga prasasti ini sekarang sangat luas dikenal sebagai Bixi.

Ba Xia dan Legenda Sembilan Anak Naga

Ada ungkapan terkenal dalam tradisi China yang kurang lebih berarti naga mempunyai sembilan anak, tetapi anak-anak tersebut tidak menjadi naga yang sama seperti ayahnya.

Angka sembilan sendiri mempunyai posisi khusus dalam kebudayaan China dan lama dikaitkan dengan naga serta kekuasaan kekaisaran.

Namun, jangan membayangkan sembilan anak naga sebagai satu keluarga yang mempunyai silsilah mitologi sangat rapi.

Daftar mereka mempunyai beberapa versi.

Dalam salah satu versi populer, kita menemukan makhluk seperti Qiuniu yang dikaitkan dengan musik, Yazi dengan pertempuran, Pulao dengan suara atau raungan, Suanni yang sering diasosiasikan dengan bentuk seperti singa, serta Bixi yang terkenal sebagai pembawa beban.

Karakter masing-masing kemudian memengaruhi tempat gambarnya digunakan.

Makhluk yang berhubungan dengan musik dapat muncul pada instrumen.

Makhluk yang menyukai suara keras dapat dihubungkan dengan lonceng.

Sementara makhluk yang terkenal mampu membawa beban mendapatkan pekerjaan yang sangat jelas.

Ia ditempatkan di bawah batu yang berat.

Inilah salah satu hal menarik dari mitologi China.

Makhluk mitologinya tidak hanya hidup dalam cerita.

Mereka masuk ke bangunan, atap, pintu, lonceng, senjata, jembatan, makam, dan berbagai benda yang digunakan manusia.

Ba Xia adalah contoh yang sangat mudah dikenali.

Kenapa Ba Xia Berbentuk Seperti Kura-Kura?

Pilihan bentuk kura-kura bukan sesuatu yang terasa asing dalam kebudayaan China.

Kura-kura telah lama memiliki posisi simbolis yang kuat dan antara lain dikaitkan dengan umur panjang.

Secara visual, bentuk tubuhnya juga memberikan kesan stabil.

Empat kaki berada dekat tanah. Tempurung besar melindungi tubuh. Gerakannya tidak terburu-buru.

Kemudian karakter tersebut digabungkan dengan naga, salah satu makhluk simbolis terpenting dalam kebudayaan China.

Hasilnya adalah makhluk yang terasa seperti diciptakan untuk bertahan.

Lihat patung Ba Xia dari samping dan kita bisa memahami logika visualnya tanpa perlu membaca legenda terlebih dahulu.

Prasasti batu yang tinggi menekan punggungnya.

Namun, makhluk tersebut tidak terlihat akan roboh.

Kakinya menapak kuat.

Kepalanya menghadap ke depan.

Seolah-olah membawa batu seberat apa pun bukan persoalan besar.

Dari sinilah hubungan antara kekuatan fisik dan gagasan mengenai ketahanan mulai terbentuk.

Kenapa Ba Xia Harus Membawa Prasasti?

Untuk memahami Ba Xia, kita juga perlu memahami benda yang berada di punggungnya.

Prasasti atau stele merupakan lempengan batu tegak yang digunakan dalam berbagai kebudayaan untuk menyimpan tulisan maupun gambar.

Di China, tradisi prasasti berkembang menjadi sesuatu yang sangat penting.

Prasasti dapat digunakan untuk mengenang orang yang telah meninggal, mencatat pencapaian, menyimpan teks, memperingati pembangunan, memuji seorang penguasa, atau merekam peristiwa.

Tulisan di atas kertas bisa rusak.

Bangunan bisa berubah.

Generasi manusia datang dan pergi.

Batu menawarkan kesan permanen.

Lalu bayangkan batu yang berisi nama, jasa, atau sebuah peristiwa penting itu diletakkan di atas makhluk mitologi yang terkenal mampu membawa beban luar biasa.

Pesannya menjadi semakin kuat.

Ba Xia bukan sekadar alas.

Ia seolah memastikan ingatan yang tertulis di atas punggungnya tidak mudah hilang.

Tradisi Kura-Kura Penyangga Prasasti Ternyata Sangat Tua

Bagian yang menarik adalah figur kura-kura pembawa prasasti ternyata lebih tua daripada beberapa versi tertulis yang secara jelas menghubungkannya dengan legenda sembilan anak naga.

Tradisi prasasti yang diletakkan di atas kura-kura batu diketahui sudah ada setidaknya pada periode akhir Dinasti Han.

Salah satu contoh awal yang masih bertahan sering dikaitkan dengan makam Fan Min di Sichuan dan bertanggal sekitar tahun 205 M.

Artinya, orang sudah menggunakan bentuk kura-kura sebagai penyangga monumen batu lebih dari seribu tahun sebelum sejumlah penulis Dinasti Ming menyusun daftar terkenal mengenai anak-anak naga.

Ini memberikan gambaran menarik mengenai bagaimana mitologi dan seni dapat berkembang.

Bukan selalu cerita muncul terlebih dahulu lalu orang membuat patung berdasarkan cerita tersebut.

Kadang bentuk visual sudah digunakan selama berabad-abad, kemudian tradisi cerita berkembang dan memberikan identitas mitologis yang lebih jelas kepadanya.

Ba Xia atau Bixi akhirnya menjadi nama yang melekat pada sosok tersebut.

Dari Kura-Kura Biasa Menjadi Makhluk Berkepala Naga

Kalau membandingkan contoh Ba Xia dari periode berbeda, bentuknya juga tidak selalu sama.

Beberapa terlihat sangat dekat dengan kura-kura.

Sementara pada karya yang lebih belakangan, karakter naganya semakin jelas.

Kepala menjadi lebih besar.

Mulut terbuka.

Gigi terlihat.

Ada kumis, tanduk, atau elemen dekoratif lain yang membuat wajahnya jauh dari kura-kura yang biasa kita temukan di alam.

Perubahan tersebut membuat Ba Xia terasa semakin fantastis.

Tubuhnya tetap menyampaikan stabilitas seekor kura-kura, sementara kepalanya membawa energi dan wibawa seekor naga.

Perpaduan itu mungkin menjadi salah satu alasan bentuk Ba Xia begitu mudah diingat.

Kita cukup melihatnya sekali untuk bertanya, “Kenapa ada naga berbadan kura-kura membawa batu sebesar itu?”

Pertanyaan sederhana tersebut membuka pintu menuju sejarah yang panjang.

Ba Xia Menjadi Simbol Kekuatan yang Tidak Banyak Bicara

Ada sesuatu yang menarik dari karakter Ba Xia.

Ia bukan pahlawan yang digambarkan terbang di langit.

Ia tidak perlu menyemburkan api.

Tidak ada cerita bahwa ia harus menjadi makhluk tercepat.

Kekuatan Ba Xia justru terlihat dari satu pekerjaan yang dilakukannya terus-menerus.

Membawa.

Batu yang berada di punggungnya bisa sangat besar, tetapi ia tetap berada di sana.

Karena itulah figur ini mudah dibaca sebagai simbol kekuatan, daya tahan, keteguhan, dan kemampuan menanggung beban.

Namun, kita juga perlu berhati-hati ketika membicarakan simbolisme.

Makna sebuah figur tradisional bisa berubah menurut periode, lokasi, dan konteks penggunaannya. Tidak setiap patung Ba Xia otomatis mempunyai satu makna feng shui yang universal.

Internet modern suka mengubah simbol budaya menjadi formula sederhana.

“Taruh patung ini di sudut tertentu untuk mendatangkan kekayaan.”

“Hadapkan ke arah tertentu supaya bisnis lancar.”

Klaim seperti itu sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bagian dari tradisi historis Ba Xia tanpa sumber yang jelas.

Makna paling kuat justru sudah terlihat dari penggunaan historisnya: ia menopang sesuatu yang dianggap penting untuk dikenang.

Ba Xia dan Kekuasaan Kekaisaran China

Prasasti besar bukan benda murah.

Memotong batu, memindahkannya, mengukir tulisan, membuat pedestal, kemudian mendirikan keseluruhan struktur membutuhkan tenaga dan sumber daya besar.

Tidak mengherankan jika monumen Ba Xia banyak ditemukan dalam konteks kekaisaran, makam elite, kuil, dan situs penting.

Pada Dinasti Ming, penggunaan jenis prasasti tertentu bahkan berkaitan dengan hierarki sosial.

Pendiri Dinasti Ming, Kaisar Hongwu, menetapkan aturan mengenai monumen makam dan siapa yang berhak menggunakan jenis tertentu.

Prasasti yang berdiri di atas kura-kura batu bukan sekadar dekorasi yang bisa digunakan siapa saja dengan bebas.

Ia juga dapat berfungsi sebagai penanda status.

Semakin kita memahami konteks ini, semakin berbeda cara melihat Ba Xia.

Makhluk yang awalnya terlihat seperti karakter fantasi ternyata berada di persimpangan antara mitologi, seni, politik, status sosial, dan cara manusia merekam sejarah.

Ba Xia Raksasa di Makam Kaisar Ming

Salah satu tempat yang memperlihatkan skala monumental tradisi ini adalah kompleks makam kekaisaran Dinasti Ming.

Di Changling, makam Kaisar Yongle dekat Beijing, terdapat sebuah prasasti batu monumental yang disangga Bixi.

Sumber resmi pemerintah Beijing menjelaskan prasasti tersebut berdiri sekitar 7,9 meter dan terbuat dari batu putih. Di bawahnya terdapat figur Bixi yang disebut sebagai salah satu dari sembilan anak naga dalam tradisi China.

Prasastinya memuat ribuan karakter yang menceritakan kehidupan serta pencapaian Kaisar Yongle.

Di sinilah fungsi Ba Xia terasa sangat jelas.

Ia secara harfiah membawa sejarah seorang kaisar di punggungnya.

Orang yang hidup ketika prasasti tersebut dibuat sudah lama meninggal.

Dinasti Ming sendiri telah berakhir.

Namun, batu dan makhluk yang menyangga batu tersebut masih berdiri.

Simbol ketahanan akhirnya benar-benar menjalankan fungsinya.

Kenapa Prasasti Harus Dibuat Begitu Besar?

Ukuran dalam monumen selalu membawa pesan.

Sebuah tulisan kecil pada dinding mungkin menyampaikan informasi yang sama.

Tetapi prasasti batu setinggi beberapa meter memberikan pengalaman yang berbeda.

Orang harus mendongak.

Kita langsung memahami bahwa apa pun yang tertulis di sana dianggap penting.

Ketika prasasti tersebut kemudian diletakkan di atas Ba Xia, keseluruhan monumen mendapatkan lapisan visual tambahan.

Ada bumi di bawahnya.

Ada makhluk kuat sebagai fondasi.

Ada tulisan manusia di tengah.

Kemudian sering kali terdapat dekorasi naga pada bagian atas.

Sebuah prasasti akhirnya bukan sekadar teks.

Ia menjadi arsitektur.

Ba Xia Tidak Hanya Bisa Ditemukan di China

Tradisi kura-kura penyangga prasasti juga menyebar melampaui wilayah China.

Bentuk serupa dapat ditemukan dalam sejarah Korea, Vietnam, Mongolia, dan wilayah lain yang pernah memiliki pertukaran budaya dengan tradisi tulisan dan monumen China.

Tentu, ketika sebuah bentuk berpindah ke budaya lain, maknanya bisa berkembang sesuai konteks lokal.

Namun, penyebaran tersebut menunjukkan betapa kuatnya format visual kura-kura penyangga prasasti.

Seseorang tidak harus bisa membaca karakter pada batu untuk memahami bahwa benda tersebut dibuat agar terasa kokoh dan bertahan lama.

Tubuh kura-kura di bawah prasasti sudah menyampaikan sebagian pesannya.

Ada Ba Xia yang Sampai ke Harvard

Perjalanan Ba Xia bahkan mencapai Amerika Serikat.

Di Harvard University terdapat sebuah monumen batu China dengan pedestal berbentuk Bixi.

Monumen tersebut diberikan oleh alumni Harvard dari China dalam rangka peringatan 300 tahun universitas pada 1936.

Prasastinya sendiri mempunyai sejarah lebih panjang dan berasal dari China.

Kini sosok Bixi tersebut berdiri di Harvard Yard.

Kehadirannya terasa hampir seperti perjalanan lintas dunia.

Makhluk yang berkembang dari tradisi monumen China kuno kini berdiri di lingkungan salah satu universitas paling terkenal di Amerika.

Dan ia masih melakukan pekerjaan yang sama.

Membawa prasasti.

Jangan Salah Mengira Ba Xia sebagai Kura-Kura Biasa

Ketika nanti melihat foto sebuah prasasti China yang berdiri di atas “kura-kura”, coba perhatikan wajahnya.

Apakah kepalanya benar-benar menyerupai kura-kura?

Atau ada hidung besar, mulut lebar, gigi, tanduk, kumis, dan ekspresi seperti naga?

Perhatikan juga tempurungnya.

Lihat kaki dan cakarnya.

Kemudian perhatikan batu yang berada di atas punggung.

Tulisan apa yang ada di sana?

Siapa yang diperingati?

Kapan monumen tersebut dibuat?

Begitu pertanyaan tersebut muncul, Ba Xia berubah dari dekorasi menjadi petunjuk sejarah.

Kita mulai membaca sebuah bangunan bukan hanya dari teks, tetapi juga dari makhluk yang ditempatkan di dalamnya.

Ba Xia dalam Feng Shui dan Dekorasi Modern

Hari ini figur naga-kura-kura juga mudah ditemukan dalam bentuk patung dekoratif berukuran kecil.

Sebagian dijual sebagai benda feng shui dan dikaitkan dengan kemakmuran, perlindungan, stabilitas, karier, atau umur panjang.

Namun, figur “dragon turtle” dalam praktik feng shui modern tidak selalu identik secara sederhana dengan fungsi historis Ba Xia sebagai penyangga prasasti.

Keduanya dapat berbagi ikonografi naga dan kura-kura, tetapi konteks penggunaannya berbeda.

Ba Xia dalam monumen bersejarah berhubungan sangat kuat dengan tradisi prasasti.

Karena itu, ketika membeli patung yang disebut “Baxia”, “Bixi”, atau “dragon turtle”, jangan otomatis menganggap seluruh klaim pemasaran yang menyertainya berasal dari legenda China kuno.

Tradisi budaya hampir selalu lebih kompleks daripada deskripsi produk tiga baris di marketplace.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Legenda Ba Xia?

Mungkin bagian paling menarik dari Ba Xia bukan pertanyaan apakah makhluk tersebut benar-benar pernah dipercaya berjalan membawa gunung atau benda raksasa.

Yang menarik adalah bagaimana manusia menggunakan cerita untuk memberikan makna kepada benda.

Tanpa legenda, kita melihat kura-kura batu yang menopang prasasti.

Dengan legenda, kita melihat anak naga yang memiliki kekuatan luar biasa dan secara alami menyukai beban berat.

Tanpa konteks sejarah, prasasti hanyalah batu vertikal.

Dengan konteksnya, batu tersebut menjadi tempat manusia mencoba melawan waktu.

Nama seseorang ditulis di sana.

Prestasinya dicatat.

Sebuah peristiwa disimpan.

Lalu semuanya dipercayakan kepada Ba Xia.

Ada semacam ironi yang indah di sana.

Naga biasanya kita bayangkan berada di langit.

Namun, anak naga yang satu ini justru berada sangat dekat dengan tanah.

Ia tidak terbang.

Ia tidak mengejar awan.

Selama berabad-abad, ia hanya berdiri di tempat yang sama sambil membawa beban di punggungnya.

Dan justru karena tidak pergi ke mana-mana, ia berhasil membawa cerita manusia jauh melewati usia manusia itu sendiri.

Ba Xia Masih Memikul Cerita Sampai Hari Ini

Berabad-abad telah berlalu sejak sebagian prasasti Ba Xia pertama kali didirikan.

Kaisar berganti.

Dinasti runtuh.

Kota berkembang.

Bahasa berubah.

Namun, di sejumlah kuil, makam, museum, dan situs bersejarah, makhluk batu itu masih berada di bawah prasasti.

Mungkin inilah alasan legenda Ba Xia terasa begitu pas dengan bentuk fisiknya.

Ia merupakan makhluk yang dikenal karena kemampuannya membawa beban, lalu manusia memberinya beban yang jauh lebih berat daripada sekadar batu.

Mereka memberinya sejarah.

Jadi, ketika suatu hari menemukan “kura-kura raksasa” dengan prasasti di punggungnya di China, jangan langsung berjalan melewatinya.

Dekati sebentar.

Lihat wajahnya.

Kemungkinan besar yang sedang kita lihat bukan kura-kura biasa.

Di depan kita berdiri Ba Xia atau Bixi, makhluk yang selama ratusan tahun dipercaya cukup kuat untuk membawa sesuatu yang ingin dibuat manusia tetap hidup: ingatan.

Referensi

Beijing Municipal Government. “Ancient Ruins on the Ground.” Beijing Magazine.
https://english.beijing.gov.cn/specials/beijingmagazine/list/202406/P020240626413901991825.pdf

Visit Beijing. “The Legend of the Dragon’s Nine Sons.”
https://english.visitbeijing.com.cn/article/47OMzTDcf77

Encyclopaedia Britannica. “Stele.”
https://www.britannica.com/art/stele

Harvard Magazine. “Studying the Stele.”
https://www.harvardmagazine.com/2012/11/studying-the-stele

Chêng, Tê-k’un. Archaeological Studies in Szechwan. Cambridge University Press.

Welch, Patricia Bjaaland. Chinese Art: A Guide to Motifs and Visual Imagery. Tuttle Publishing.

Bates, Roy. Chinese Dragons. Oxford University Press.

Search

Popular Posts

  • Da Feng: Burung Angin Raksasa yang Ditembak Hou Yi dalam Mitologi Tiongkok
    Da Feng: Burung Angin Raksasa yang Ditembak Hou Yi dalam Mitologi Tiongkok

    cruisesplusinternational – Angin kencang menyapu sebuah permukiman. Atap rumah berguncang, pepohonan membungkuk, dan debu beterbangan hingga menutupi jalan. Penduduk bergegas mencari perlindungan, tetapi hembusan angin terus menguat. Dari kejauhan, terdengar suara kepakan sayap yang tidak menyerupai burung biasa. Sesuatu yang sangat besar bergerak di atas pepohonan. Setiap kali makhluk itu mengepakkan sayap, udara seakan terdorong…

  • Lei Niao: Burung Petir Anak Fenghuang yang Mampu Menggetarkan Langit
    Lei Niao: Burung Petir Anak Fenghuang yang Mampu Menggetarkan Langit

    cruisesplusinternational – Langit yang semula cerah tiba-tiba menggelap. Angin berembus kencang, awan hitam berkumpul, dan suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Belum sempat hujan turun, seberkas cahaya membelah langit dalam sekejap. Di antara awan yang bergolak, seekor burung raksasa melesat dengan kecepatan luar biasa. Sayapnya bergerak begitu cepat hingga sulit diikuti mata. Setiap kepakannya memunculkan kilatan…

  • Da Peng: Burung Raksasa Bersayap Emas yang Memangsa Naga dan Menantang Sun Wukong
    Da Peng: Burung Raksasa Bersayap Emas yang Memangsa Naga dan Menantang Sun Wukong

    cruisesplusinternational – Di sebuah lautan yang begitu luas hingga batasnya sulit terlihat, seekor ikan raksasa bergerak di bawah permukaan air. Tubuhnya membentang ribuan li, ukuran jarak tradisional Tiongkok, sampai tidak ada seorang pun yang mampu memperkirakan panjangnya. Lalu sesuatu yang mustahil terjadi. Ikan tersebut berubah menjadi burung dengan sayap selebar awan yang menggantung di langit.…

Categories

Tags